Kriminal mulai hantui bali

Asyik Pacaran, Sepeda Motor Dirampas

Baktiseraga, Nasib sial dialami sepasang muda-mudi yang dilanda kasmaran, dimana saat asyik berpacaran di Kawasan Pantai Indah, Desa Baktiseraga Kecamatan Buleleng, Komang Ginaya (25) warga Desa Selat, Kecamatan Sukasada dan pacarnya Depi dihampiri dua orang tidak dikenal dan mengaku sebagai anggota polisi serta merampas sepeda motor milik Ginaya, Minggu (11/5) kedua pelaku saat ini sedang dicari polisi.

“Dalam aksinya, pelaku mengaku-ngaku sebagai aparat kepolisian yang sedang melaksanakan tugas dan menanyakan KTP, bahkan merampas sepada motor milik korban,” ungkap Kasat Reskrim Polres Buleleng, AKP Ambaryadi Wijaya,

Berdasarkan laporan di Mapolres Buleleng menyebutkan, dua pelaku datang menghampiri korban dan mengaku dari aparat kepolisian yang sedang melaksanakan operasi KTP.

”Saat diperiksa polisi gadungan itu, korban tidak dapat menunjukkan KTP sehingga pelaku minta kunci sepada motor milik korban, begitu dapat kunci, dua palaku itu menyuruh korban tetap di pantai, sementara kedua pelaku membawa kabur motor milik korban,” ujar Ambariyadi.

Akibat aksi perampasan sepeda motor itu, korban Komang Ginaya mengalami kerugian hampir mencapai sepuluh juta rupiah, sedangkan Unit Buser Sat Reskrim Polres Buleleng masih melakukan pengejaran terhadap kedua pelaku.

Add comment 05 08 08

Kerajinan Bali

Koperasi kerajinan di Provinsi Bali semakin terpuruk karena tidak mampu bersaing menyusul bermunculannya pasar-pasar seni di sekitar kawasan wisata.

Selain itu, pengetahuan mengenai persaingan bisnis dan pemasaran yang dimiliki pengelola koperasi tersebut masih sangat minim.

Bagaimana kami bisa bertahan jika pembeli yang biasanya wisatawan asing lebih memilih harga murah daripada melihat kualitas barang kerajinan, kata Ketua Koperasi Kerajinan Sanggraha Kriya Asta, Cokorda Dalem Sukawati, Selasa .

Koperasi Kerajinan Sanggraha Kriya Asta di Jalan Tohpati, Denpasar, itu adalah satu dari sejumlah koperasi kerajinan yang berdiri sejak tahun 1970-an, yang hingga sekarang masih bertahan. Koperasi tersebut bergerak dalam bidang pemasaran dengan menampung hasil kerajinan tangan dari para perajin se-Bali.

Menurut Cokorda, koperasi kerajinan lainnya sudah gulung tikar karena tidak mampu bersaing dan memasarkan produk kerajinan. Koperasi yang dipimpinnya pun kini terancam ambruk. Laba dari penjualan hasil kerajinan, seperti ukiran kayu, lukisan, tenun, menurun selama lima tahun terakhir. Pada tahun 2000 koperasi itu masih mampu meraih laba sekitar Rp 64 juta.

Namun, pada tahun 2004 laba menurun hingga Rp 12 juta. Padahal, Sanggraha Kriya Asta harus membagi sisa hasil usaha kepada sedikitnya 200 anggota dan menggaji 10 karyawan.

Keluhan lain yang diungkapkan Cokorda adalah besarnya pajak yang harus dibayar. Beberapa kali kami mengajukan keringanan pajak, seperti PBB, tetapi selalu ditolak, katanya.

Setiap tahun koperasi kerajinan itu harus mengeluarkan setoran pajak bumi dan bangunan (PBB) dan pajak penghasilan (PPh) sedikitnya Rp 7 juta. Belum lagi kami harus mengurus dan merawat seluruh hasil kerajinan yang dipajang di ruang pamer.

Tumbuh 10 persen

Kepala Subdinas Bina Lembaga Koperasi Dinas Koperasi Pengusaha Kecil dan Menengah Provinsi Bali, Ketut Sunyana, mengakui belum optimalnya pemberdayaan koperasi. Meskipun pertumbuhan koperasi di Bali mendekati 10 persen, namun hal itu belum merupakan gambaran koperasi sudah maju.

Terkadang alasan beberapa orang yang mengajukan pembentukan koperasi hanya karena mendapat kemudahan mencari kredit perbankan.

Bagi temen2 yang berminat dengan kerajinan beli untuk lokal maupun export, kita bantu mencarikan kerajinan tersebut hanya dengan memberi  foto contoh kerajinan. Nanti kita akan berikan solusi dan gambar contoh kerajinan yang di maksud.  Pemesan baik secara grosir atau eceran, dengan harga yang terjangkau dan sebanding dengan kualitas kerajinan tersebut. Kontak saya Melaui YM ataupun email. kualitas dan serice yang terjamin. bro_ngezt@yahoo.com

Add comment 04 08 08

Traditional Restourant

WARUNG MADE MENGWI

“Traditional Restourant”

Tempat makan yg nyaman dan enak di Bali, WARUNG MADE mengwi di Jl.mengwitani, badung, Bali  Depasar – gilimanuk Km 15. Tempat makan yang sangat strategis dan mudah di jumpai. Letaknya sekitar 17 Km dari Tanah lot, 25 km dari bedugul, 15 Km dari pusat kota denpasar. Patokan lokasi adalah pasar hewan beringkit, pas di jalan utama denpasar – gilimanuk. kalau dari arah kota denpasar, warung made bertempat sebelum perbatasan Kota Badung-Tabanani Nanti ketemu tempat makan yg suasananya asri, bersih, luas dan nyaman. Kalau belum ketemu juga, tanya ma orang-orang di sekitaran mengwi pasti tau semua. Warung made Sangat cocok buat makan bareng keluarga, Warung made sering di gunakan politikus, para eksekutif terkenal untuk meeting. Pada saat musim liburan, para turis domestik dan mancanegara tidak akan lupa untuk mampir menikmati sajian makanan di warung made.

Menu makanan disini sudah dibuat paket, diperbolehkan juga jika ingin menikmati sajian terpisah pisah. Dalam menu paket terdapat nasi, sayur plecing, sup ikan, pepes ikan, sate lilit dan sambal mentah. Satu paket dengan harga per-porsi Rp. 12.000.-. Rsakan dan nikmati sate lilit dan pepes ikan, rasanya sangat mantap. Rempah-rempahnya sangat terasa. Di Warung made ada satu lagi hidangan spesial yaitu ikan bakar khas warung made, sensasi rasanya selalu nempel di lidah. Harganya pun tergantung size yang dapat di pilih, mulai dari Rp. 30.000,- s/d Rp 50.000,- Minumannya juga bermacam-macam, mulai dari jeruk, teh , es kelapa muda baik yang utuh atau pakai gelas. Semuanya sangat terjangkau di semua lapisan masyarakat. Jika ingin menikmati masakan ikan laut ala Bali yg tradisional, silahkan mampir ke warung made mengwi.

Contact

Warung Made mengwi

Spesial ikan bakar

Terima pesanan

2 comments 03 08 08

Pulau Bali nan indah

Sejarah Pulau Bali

Penghuni pertama pulau Bali diperirakan datang pada 3000-2500 SM yang bermigrasi dari Asia. Peninggalan peralatan batu dari masa tersebut ditemukan di desa Cekik yang terletak di bagian barat pulau. Zaman prasejarah kemudian berakhir dengan datangnya orang-orang Hindu dari India pada 100 SM.

Kebudayaan Bali kemudian mendapat pengaruh kuat kebudayaan India, yang prosesnya semakin cepat setelah abad ke-1 Masehi. Nama Balidwipa (pulau Bali) mulai ditemukan di berbagai prasasti, diantaranya Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada 913 M dan menyebutkan kata Walidwipa. Diperkirakan sekitar masa inilah sistem irigasi subak untuk penanaman padi mulai dikembangkan. Beberapa tradisi keagamaan dan budaya juga mulai berkembang pada masa itu. Kerajaan Majapahit (12931500 AD) yang beragama Hindu dan berpusat di pulau Jawa, pernah mendirikan kerajaan bawahan di Bali sekitar tahun 1343 M. Saat itu hampir seluruh nusantara beragama Hindu, namun seiring datangnya Islam berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di nusantara yang antara lain menyebabkan keruntuhan Majapahit. Banyak bangsawan, pendeta, artis, dan masyarakat Hindu lainnya yang ketika itu menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali.

Orang Eropa yang pertama kali menemukan Bali ialah Cornelis de Houtman dari Belanda pada 1597, meskipun sebuah kapal Portugis sebelumnya pernah terdampar dekat tanjung Bukit, Jimbaran, pada 1585. Belanda lewat VOC pun mulai melaksanakan penjajahannya di tanah Bali, akan tetapi terus mendapat perlawanan sehingga sampai akhir kekuasaannya posisi mereka di Bali tidaklah sekokoh posisi mereka di Jawa atau Maluku. Bermula dari wilayah utara Bali, semenjak 1840-an kehadiran Belanda telah menjadi permanen, yang awalnya dilakukan dengan mengadu-domba berbagai penguasa Bali yang saling tidak mempercayai satu sama lain. Belanda melakukan serangan besar lewat laut dan darat terhadap daerah Sanur, dan disusul dengan daerah Denpasar. Pihak Bali yang kalah dalam jumlah maupun persenjataan tidak ingin mengalami malu karena menyerah, sehingga menyebabkan terjadinya perang sampai mati atau puputan, yang melibatkan seluruh rakyat baik pria maupun wanita termasuk rajanya. Diperkirakan sebanyak 4.000 orang tewas dalam peristiwa tersebut, meskipun Belanda telah memerintahkan mereka untuk menyerah. Selanjutnya, para gubernur Belanda yang memerintah hanya sedikit saja memberikan pengaruhnya di pulau ini, sehingga pengendalian lokal terhadap agama dan budaya umumnya tidak berubah.

Jepang menduduki Bali selama Perang Dunia II, dan saat itu seorang perwira militer bernama I Gusti Ngurah Rai membentuk pasukan Bali ‘pejuang kemerdekaan’. Menyusul menyerahnya Jepang di Pasifik pada bulan Agustus 1945, Belanda segera kembali ke Indonesia (termasuk Bali) untuk menegakkan kembali pemerintahan kolonialnya layaknya keadaan sebelum perang. Hal ini ditentang oleh pasukan perlawanan Bali yang saat itu menggunakan senjata Jepang.

Pada 20 November 1940, pecahlah pertempuran Puputan Margarana yang terjadi di desa Marga, Kabupaten Tabanan, Bali tengah. Kolonel I Gusti Ngurah Rai, yang berusia 29 tahun, memimpin tentaranya dari wilayah timur Bali untuk melakukan serangan sampai mati pada pasukan Belanda yang bersenjata lengkap. Seluruh anggota batalion Bali tersebut tewas semuanya, dan menjadikannya sebagai perlawanan militer Bali yang terakhir.

Pada tahun 1946 Belanda menjadikan Bali sebagai salah satu dari 13 wilayah bagian dari Negara Indonesia Timur yang baru diproklamasikan, yaitu sebagai salah satu negara saingan bagi Republik Indonesia yang diproklamasikan dan dikepalai oleh Sukarno dan Hatta. Bali kemudian juga dimasukkan ke dalam Republik Indonesia Serikat ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 29 Desember 1949. Tahun 1950, secara resmi Bali meninggalkan perserikatannya dengan Belanda dan secara hukum menjadi sebuah propinsi dari Republik Indonesia.

Letusan Gunung Agung yang terjadi di tahun 1963, sempat mengguncangkan perekonomian rakyat dan menyebabkan banyak penduduk Bali bertransmigrasi ke berbagai wilayah lain di Indonesia.

Tahun 1965, seiring dengan gagalnya kudeta oleh G30S terhadap pemerintah nasional di Jakarta, di Bali dan banyak daerah lainnya terjadilah penumpasan terhadap anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia. Di Bali, diperkirakan lebih dari 100.000 orang terbunuh atau hilang. Meskipun demikian, kejadian-kejadian di masa awal Orde Baru tersebut sampai dengan saat ini belum berhasil diungkapkan secara hukum.[1]

Serangan teroris telah terjadi pada 12 Oktober 2002, berupa serangan Bom Bali 2002 di kawasan pariwisata Kuta, menyebabkan sebanyak 202 orang tewas dan 209 orang lainnya cedera. Serangan Bom Bali 2005 juga terjadi tiga tahun kemudian di Kuta dan pantai Jimbaran. Kejadian-kejadian tersebut mendapat liputan internasional yang luas karena sebagian besar korbannya adalah wisatawan asing, dan menyebabkan industri pariwisata Bali menghadapi tantangan berat beberapa tahun terakhir ini.

Add comment 01 08 08